Syekh Abu Nashr as-Saraj rahimahullah berkata : Abu Ya’qub an-Nahrajuri berkata : saya mendengar Abu Ya’qub as-susi berkata : Ada seorang fakir datang kepada kami, lalu si fakir itu berkata kepada kami, “Kalian adalah orang-orang yang biasa memberikan bantuan. Saat ini kami sedang ditimpa bencana.”
Maka Sahl bin Abdullah berkata, “dalam daftar bencana telah tercatat, sejak anda memperlihatkan masalah ini. Lalu apa bencana itu ?”
Ia menjawab, “Dibukakan pada kami pintu (kenikmatan) dunia, dan aku gunakan hanya untuk diri sendiri tanpa peduli keluarga dekatku. Hingga dengan itu saya kehilangan iman dan kondisi spiritual (maqam).
Abu Ya’qub menjawab, “Bencana dalam kondisi spiritualnya lebih berat daripada bencana imannya.” Lalu Sahl berkata, ”Orang seperti Anda yang pantas mengatakan ini.”
Syarh dari pen-tahkik :
Anakku, sebagian orang beriman menganggap dibukakannya pintu dunia (berupa harta atau kenikmatan dunia lain) sebagai suatu bencana. Mereka memiliki anggapan ini karena mereka tahu betul bahwa dirinya telah menempuh jalan kenikmatan dunia, yang tidak ditempuh oleh Rasul dan orang-orang shaleh.
Rasulullah saw, seperti yang telah engkau ketahui, tidak pernah memperlihatkan diri sebagai penikmat dunia, melainkan penikmat akhirat. Tidak pernah terbetik cerita bahwa Rasul saw hidup mewah.
Barangkali inilah inti cerita Al-Wajihi, ketika berkata : suatu ketika Bunan Al Hammal diberi kenikmatan dunia berupa uang 400 dinar. Ketika ia tidur, mereka meletakkan uang itu di atas kepalanya. Kemudian ia bermimpi seakan-akan ada orang berkata, “Barang siapa mengambil dunia lebih dari kadar yang secukupnya, maka Allah membutakan mata hatinya.” Ketika ia terbangun, ia ambil empat daniq, sementara sisanya ia tinggalkan.
Anakku, semakin banyak dunia yang kau ambil, maka semakin matilah mata hatimu, dan semakin jauhlah kedudukanmu di sisi Allah. Bagaimana tidak, sebagaimana kau ketahui, bahwa orang kenyang biasanya melupakan orang lapar. Orang yang berpakaian seringkali melupakan orang yang telanjang, dan orang yang memiliki rumah, lupa akan saudaranya yang tidak memiliki rumah, dan pada akhirnya ia lupa kepada Allah. Ia lupa bahwa Allah-lah sumber dari semua kenikmatan dunia yang dimilikinya.
An-Nuri pernah menuangkan uang kepada sebuah rumah, kemudian berkata kepada mereka, ”Siapa di antara kalian yang memerlukan sesuatu, silakan masuk rumah ini dan ambil apa yang ia inginkan. Maka di antara mereka ada yang mengambil seratus dirham, malah ada yang lebih banyak. Ada yang mengambil kurang dari seratus, dan ada pula yang tidak mengambil apa-apa. Ketika dirham-dirham itu habis dan tidak tersisa sedikitpun, maka an-Nuri berkata kepada mereka, “Jauhnya kalian dari Allah sesuai dengan kadar banyaknya kalian mengambil uang tersebut. Sedangkan dekatnya kalian dengan Allah sesuai dengan kadar kalian meninggalkan uang tersebut.”
Anakku, belajarlah untuk merasa fakir, karena jika engkau merasa cukup, maka engkau tidak bisa meminta kepada Allah. Belajarlah untuk merasa hina, karena jika engkau merasa mulia, maka selamanya engkau tidak bisa menghamba kepada Allah. Jika kenikmatan dunia yang kau miliki menyebabkanmu merasa cukup sehingga engkau merasa tidak memerlukan lagi rejeki dari Allah, jika kenikmatan dunia menyebabkanmu merasa memiliki kedudukan mulia di hadapan mahluk, sehingga tidak mau lagi menghamba (kepada Allah). Maka kenikmatan dunia itu telah menjauhkanmu dari Allah. Dan inilah bencana terbesar bagimu.
Inilah inti cerita al-Husain al-Nuri ketika diberi uang sebanyak 300 dinar dari beberapa orang. Setelah menerima uang itu, an Nuri duduk di atas jembatan Sarat sambil melepar dinar-dinar tersebut, satu demi satu, ke dalam air, dan berkata, “Wahai Tuhanku, dengan dinar ini Engkau ingin menipuku agar jauh dari-Mu.”
Anakku, sungguh sangat sulit, diperlukan riyadhah (latihan) bertahun-tahun, agar kenikmatan dunia ini tidak hinggap hatimu. Jika engkau tidak sanggup mengendalikannya, kenikmatan itu akan membuatmu cinta kepadanya (cinta dunia). Sudah menjadi sunatullah, jika engkau mencintai Allah, maka dunia akan meninggalkanmu, dan jika engkau mencintai dunia, maka Allah akan semakin jauh darimu. Ambilah dunia sesuai keperluanmu, setelah itu tinggalkanlah. Karena sungguh, balasan untukmu bukanlah di dunia, melainkan Akhirat nanti.
Semoga engkau termasuk ke dalam golongan orang yang dapat mengambil pelajaran. Amin....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
INILAH KEHIDUPAN, APAPUN BENTKNYA HARUS KITA JALANI
HIDUP BAGAIKAN SEORANG PELUKIS YANG MENGGORESKAN KANFASNYA
APAPUN BENTUK CORETAN LEBIH BAIK DIBANDING HAMPARAN KASA YANG TANPA ARTI
EKSPRESIKAN KEBEBASANMU DISINI