Senin, 15 Juni 2009
Adab ketika kenikmatan dunia terbuka
Maka Sahl bin Abdullah berkata, “dalam daftar bencana telah tercatat, sejak anda memperlihatkan masalah ini. Lalu apa bencana itu ?”
Ia menjawab, “Dibukakan pada kami pintu (kenikmatan) dunia, dan aku gunakan hanya untuk diri sendiri tanpa peduli keluarga dekatku. Hingga dengan itu saya kehilangan iman dan kondisi spiritual (maqam).
Abu Ya’qub menjawab, “Bencana dalam kondisi spiritualnya lebih berat daripada bencana imannya.” Lalu Sahl berkata, ”Orang seperti Anda yang pantas mengatakan ini.”
Syarh dari pen-tahkik :
Anakku, sebagian orang beriman menganggap dibukakannya pintu dunia (berupa harta atau kenikmatan dunia lain) sebagai suatu bencana. Mereka memiliki anggapan ini karena mereka tahu betul bahwa dirinya telah menempuh jalan kenikmatan dunia, yang tidak ditempuh oleh Rasul dan orang-orang shaleh.
Rasulullah saw, seperti yang telah engkau ketahui, tidak pernah memperlihatkan diri sebagai penikmat dunia, melainkan penikmat akhirat. Tidak pernah terbetik cerita bahwa Rasul saw hidup mewah.
Barangkali inilah inti cerita Al-Wajihi, ketika berkata : suatu ketika Bunan Al Hammal diberi kenikmatan dunia berupa uang 400 dinar. Ketika ia tidur, mereka meletakkan uang itu di atas kepalanya. Kemudian ia bermimpi seakan-akan ada orang berkata, “Barang siapa mengambil dunia lebih dari kadar yang secukupnya, maka Allah membutakan mata hatinya.” Ketika ia terbangun, ia ambil empat daniq, sementara sisanya ia tinggalkan.
Anakku, semakin banyak dunia yang kau ambil, maka semakin matilah mata hatimu, dan semakin jauhlah kedudukanmu di sisi Allah. Bagaimana tidak, sebagaimana kau ketahui, bahwa orang kenyang biasanya melupakan orang lapar. Orang yang berpakaian seringkali melupakan orang yang telanjang, dan orang yang memiliki rumah, lupa akan saudaranya yang tidak memiliki rumah, dan pada akhirnya ia lupa kepada Allah. Ia lupa bahwa Allah-lah sumber dari semua kenikmatan dunia yang dimilikinya.
An-Nuri pernah menuangkan uang kepada sebuah rumah, kemudian berkata kepada mereka, ”Siapa di antara kalian yang memerlukan sesuatu, silakan masuk rumah ini dan ambil apa yang ia inginkan. Maka di antara mereka ada yang mengambil seratus dirham, malah ada yang lebih banyak. Ada yang mengambil kurang dari seratus, dan ada pula yang tidak mengambil apa-apa. Ketika dirham-dirham itu habis dan tidak tersisa sedikitpun, maka an-Nuri berkata kepada mereka, “Jauhnya kalian dari Allah sesuai dengan kadar banyaknya kalian mengambil uang tersebut. Sedangkan dekatnya kalian dengan Allah sesuai dengan kadar kalian meninggalkan uang tersebut.”
Anakku, belajarlah untuk merasa fakir, karena jika engkau merasa cukup, maka engkau tidak bisa meminta kepada Allah. Belajarlah untuk merasa hina, karena jika engkau merasa mulia, maka selamanya engkau tidak bisa menghamba kepada Allah. Jika kenikmatan dunia yang kau miliki menyebabkanmu merasa cukup sehingga engkau merasa tidak memerlukan lagi rejeki dari Allah, jika kenikmatan dunia menyebabkanmu merasa memiliki kedudukan mulia di hadapan mahluk, sehingga tidak mau lagi menghamba (kepada Allah). Maka kenikmatan dunia itu telah menjauhkanmu dari Allah. Dan inilah bencana terbesar bagimu.
Inilah inti cerita al-Husain al-Nuri ketika diberi uang sebanyak 300 dinar dari beberapa orang. Setelah menerima uang itu, an Nuri duduk di atas jembatan Sarat sambil melepar dinar-dinar tersebut, satu demi satu, ke dalam air, dan berkata, “Wahai Tuhanku, dengan dinar ini Engkau ingin menipuku agar jauh dari-Mu.”
Anakku, sungguh sangat sulit, diperlukan riyadhah (latihan) bertahun-tahun, agar kenikmatan dunia ini tidak hinggap hatimu. Jika engkau tidak sanggup mengendalikannya, kenikmatan itu akan membuatmu cinta kepadanya (cinta dunia). Sudah menjadi sunatullah, jika engkau mencintai Allah, maka dunia akan meninggalkanmu, dan jika engkau mencintai dunia, maka Allah akan semakin jauh darimu. Ambilah dunia sesuai keperluanmu, setelah itu tinggalkanlah. Karena sungguh, balasan untukmu bukanlah di dunia, melainkan Akhirat nanti.
Semoga engkau termasuk ke dalam golongan orang yang dapat mengambil pelajaran. Amin....
Sabtu, 06 Juni 2009
Senandung Cinta Khalil Gibran

"...pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil Gibran)
"...kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang" (Kahlil Gibran)
"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..." (Kahlil Gibran)
"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran)
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran)
"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang" (Kahlil Gibran)
"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai... Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya" (Kahlil Gibran)
"Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku... sebengis kematian... Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara..., di dalam pikiran malam. Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan... sekecup ciuman" (Kahlil Gibran)
KEHIDUPAN
HIDUP BAGAIKAN SEORANG PELUKIS YANG MENGGORESKAN KANFASNYA
APAPUN BENTUK CORETAN LEBIH BAIK DIBANDING HAMPARAN KASA YANG TANPA ARTI
EKSPRESIKAN KEBEBASANMU DISINI
